Dewan Pers: Media Jangan Membesarkan Berita Aksi Terorisme

"Pemberitaan yang berlebihan malah membuat masyarakat lebih takut"
Ilustrasi serangan teror di Mapolda Riau (Istimewa)

NASIONAL, KLIKPOSITIF -- Dewan Pers menilai, pemberitaan media soal aksi terorisme terkesan berlebihan, sehingga hal itu bisa memicu aksi-aski teror susulan.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo. Menurutnya dengan pemberitaan yang berlebihan malah membuat masyarakat lebih takut.

"Media dalah oksigen di dalam terorisme," katanya mengutip kalimat mendingan mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcer.

Dari kutipan tersebut, Yosep melihat adanya kaitan antara media dan terorisme. Aksi terorisme sendiri memiliki tiga unsur dan media berperan untuk membuatnya menjadi besar.

"Kalau kita melihat kaitannya dengan media itu adalah unsur dadakannya, faktor kejutnya dan efek menggetarkan. Yang bisa membuat tiga efek ini menjadi membesar itu adalah media," ucap dia.

Media yang pada dasarnya memiliki hak untuk memberikan semua berita kepada masyarakat, malah menurut Yosep justru menimbulkan rasa ketakutan di masyarakat.

"Kalau diberitakan berulang-ulang tidak diberi tanggal kejadiannya kapan menimbulkan efek mencekam bagi masyarakat," tutur dia.

Pasalnya, sejauh ini Yoseph melihat pada saat terjadi aksi terorisme di Indonesia, beberapa televisi di Indonesia terus menerus menayangkan informasi tersebut mulai dari pagi hari hingga larut malam.

"Ada breaking news, bangun tidur kita nonton sampai tengah malam. Kita tahu bahwa pelaku teror sudah meninggal ketika dia meledakan bom, tapi message dari teror itu diteruskan oleh media. Justru oleh teman-teman wartawan," sebut Yosep.

Oleh karena itu, Dewan Pers telah mengedarkan surat edaran yang berisikan imbauan kepada media untuk tidak berlebihan dalam memberitakan aksi terorisme.

"Karena itu Dewan Pers mengeluarkan surat edaran. Kita meminta sudah saatnya kita melihat apakah ini tidak berlebihan," pungkasnya.(*)

Sumber: Suara.com