Belajar dari Gempa Palu, Lapas Muaro Padang Butuh Shelter Tsunami

"Ide pembuatan bangunan untuk mempermudah evakuasi saat bencana tersebut muncul ketika gempa Aceh dan Palu"
Ilustrasi bangunan shelter tsunami yang terletak di kawasan Tabing, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang (Lensadroid)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Barat membutuhkan bangunan yang bisa berfungsi sebagai shelter di area Lapas Kelas II A Muaro Padang.

Lokasi tempat binaan tersebut terletak di pinggiran pantai Padang dan jaraknya ke pantai sangat dekat. Kondisi demikian, membuat bangunan lapas riskan ketika bencana gempa dan tsunami melanda Kota Padang.

Hal itu diungkapkan oleh Plt Kakanwil Kemenkumham Sumbar, Yasmon. Saat ini ia mengaku bahwa pihaknya telah melaporkan hal tersebut pada Kemenkumham, namun belum disetujui.

"Kami sudah mengusulkan untuk pembuatan shelter ke Kementrian, tetapi sampai saat ini masih belum disetujui," katanya pada KLIKPOSITIF.

Ide pembuatan bangunan untuk mempermudah evakuasi saat bencana tersebut muncul ketika gempa Aceh dan Palu.

Yasmon menjelaskan, ketika tsunami melanda dua daerah itu banyak tahanan yang kabur karena tidak bisa berlindung di bangunan Lapas.

"Kalau misalnya tidak ada shelter, maka sebanyak 900 lebih warga binaan akan menjadi korban," ucap dia.

Kendati demikian, bukan berarti pihak Lapas tidak punya rencana evakuasi jika bencana itu terjadi. Menurut Yasmon, sementara ini pihaknya telah menyiapkan opsi untuk mengevakuasi tahanan ke Gunung Padang.

"Kami sudah melakukan simulasi jika terjadi tsunami, tetapi (simulasi) hanya untuk pegawai saja, kalau untuk warga binaan, kami meminta pegawai agar bisa melakukan pengawasannya," sambungnya.

Lalu terkait pembangunan shelter, pihaknya akan mengupayakan hal tersebut pada pemerintah daerah.

"Jika tidak ada bantuan dari pusat, dalam waktu dekat kami akan meminta bantuan kepada Pemerintah Daerah dan kami berharap untuk celter ini bisa diadakan," pungkasnya kemudian.

[Halbert Chaniago]