MULYADI: Panas Bumi, Hadiah Alam untuk Sumatera Barat

"Di Indonesia sudah ada 13 Pembangkit Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan 1.948,5 MW, atau baru termanfaatkan 4,3 persen dari potensi yang ada."
Mulyadi (Dok. pribadi)

PANAS bumi, merupakan potensi energi terbanyak di Sumatera Barat. Ada 17 titik di tujuh kabupaten. Jika bisa dikelola, maka selain harganya murah juga ramah. Kalangan DPR memberi perhatian khusus pada potensi ini untuk digarap, apalagi Indonesia memiliki 40 persen dari total energi panas bumi atau geothermal itu. Di Sumatera Utara sudah ada dua penbangkit dan di Lampung satu pembangkit. Sejauh itu kalangan industri dan rakyat menikmatinya. Tidak ada masalah apapun dengan lingkungan. Di Solok Selatan juga sudah ada, tinggal sekarang komersialisasinya.

Di Indonesia sudah ada 13 Pembangkit Tenaga Panas Bumi (PLTP) dengan 1.948,5 MW, atau baru termanfaatkan 4,3 persen dari potensi yang ada. Lebih dari 95 persen, masih tersimpan di perut bumi sebagai hadiah yang dibiarkan begitu saja. Melihat potensi di Sumatera Barat, maka seharusnya sudah ada beberapa PLTP di sini, dengan demikian rakyat bisa mendapatkan energi terbarukan, yang lebih murah.

Panas bumi di Ranah Minang sekitar 1.600 MW, sedang tidur di Gunung Tandikek, Singgalang dan Talamau. Sedangkan di kaki Kerinci, Solsel sudah digarap oleh PT Supreme Energi Muara Labuh. Meski sedang rumit, potensi serupa di Gunung Talang, akan dikembangkan oleh Hitay Daya Energi. Sedangkan, beberapa potensi lainnya seperti di Gunung Tandikek, Gunung Singgalang, dan Gunung Talamau dan di Bonjol belum dikelola.

Pemerintah daerah berkewajiban memberi informasi yang benar soal energi panas bumi itu. Jika potensinya sudah didapat, maka teknologinya sederhana. Tidak merusak lingkungan karena siklusnya tertutup. Yang diambil uapnya  lalu diinjeksikan kembali berupa air yang masuk lagi ke tanah kemudian jadi uap lagi. Pengelolaan energi dengan sistem tertutup itulah yang menjadi kunci ramah lingkungan. Apalagi di Sumatera Barat, letak potensi panas bumi  di hutan lindung. Bukankah kampung kita ini dikeliling 60 persen hutan lindung?

Hutan lindung merupakan satu bab, namun potensi ... Baca halaman selanjutnya