Ribuan Warga Siberut Mentawai Mengungsi

"Simulasi evakuasi mandiri ini dimulai pukul 14.00 WIB secara serempak, dimana masing-masing dusun telah menyepakati tanda yang akan digunakan sebagai penada dimulainya simulasi"
Simulasi evakuasi mandiri yang dilakukan di Siberut, Kepulauan Mentawai. (istimewa)

MENTAWAI, KLIKPOSITIF -- Sebanyak 1.476 warga masyarakat dari sembilan dusun mengikuti simulasi evakuasi mandiri, Minggu (10/2) di Desa Pasakiat Teileleu, Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Simulasi evakuasi mandiri dimulai pukul 14.00 WIB secara serempak, dimana masing-masing dusun telah menyepakati tanda yang akan digunakan sebagai penada dimulainya simulasi. Adapun tanda tersebut sekaligus berfungsi sebagai sistem peringatan dini dengan mengadopsi kearifan lokal, antara lain menggunakan kentongan bambu.

Setelah kentongan dibunyikan sesuai yang telah disepakati, lalu warga yang terlibat simulasi evakuasi mandiri melakukan 3 B (Bersimpuh, Berlindung, Bertahan) dirumah masing-masing, sambil menghitung 20 detik untuk kemudian lari menuju ketinggian melalui 3 (tiga) jalur evakuasi yang ada.

Ditengah guyuran hujan deras, tidak menyurutkan semangat warga dalam mengikuti kegiatan simulasi evakuasi mandiri. Warga tetap komitmen untuk melakukan simulasi, walau diantara mereka ada kelompok rentan, masuk kategori usia lansia, perempuan beserta bayi dibawah tiga tahun (batita), anak-anak dan remaja.

Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran warga masyarakat yang sangat tinggi akan pentingnya upaya keselamatan mereka, serta keberhasilan edukasi bencana yang dilakukan oleh Tim BNPB, BPBD Kepulauan Mentawai, Serta ASB.

Simulasi evakuasi mandiri, dengan estimasi kedtangan tsunami yang ke 5 – 10 menit, sementara dalam simulasi warga mencapai titik evakuasi dalam kisaran waktu 4 – 11 menit. Tim meyakini bahwa masyarakat Desa Pasakiat Teilleu sudah #SiapUntukSelamat, baik selamat dari gempa, maupun selamat dari tsunami.

Tindaklanjut dari kegiatan ini, selanjutnya bagaimana agar masyarakat juga siap untuk bertahan hidup setelah tsunami, mengingat keterisoliran Pulau Siberut, serta dampak tsunami yang tentunya akan berpengaruh juga ke ibukota kabupaten dan ibukota provinsi. Sehingga mereka ... Baca halaman selanjutnya