Kisah Veteran yang Sempat Tidak Makan 6 Hari Selama Agresi Belanda

"Apapun bisa kami jadikan senjata. Tidak hanya bambu runcing, minyak tanah dan bensin pun kami gunakan untuk melawan tentara Belanda ketika perang di Ladang Padi"
Nasir, memperlihatkan piagam kehormatan veteran saat ditemui di rumahnya di Padang Besi (Ist)
melakukan agresi usai Jepang menyerah," kenang Nasir saat ditemui di rumahnya akhir pekan lalu.

Nasir saat ini tinggal berdua dengan istri pertamanya Siti Hajir (86). Sebelumnya setelah tiga bulan menikah, Nasir bercerai dengan Siti Hajir dan menikah lagi dengan wanita lain. Namun karena benih-benih cinta masih bersemayam di belahan hati Nasir dan Siti Hajir, akhirnya kedua pasangan ini di usia senja, kembali menjalin biduk rumah tangga pada medio 2012 setelah keduanya lama bercerai.

"Anak saya ada 12 orang. Saat ini anak saya yang hidup tinggal 6 orang, dan mereka merupakan buah hati saya dengan istri saya yang lain. Kalau dengan Siti Hajir, saya gak punya anak, maklumlah, usia pernikahan kami ketika masa penjajahan tiga bulan lamanya. Saat ini hanya kami berdua yang tinggal di gubuk kecil ini. Anak-anak saya sudah tinggal di rumahnya masing-masing. Kalau untuk makan, cucu kami yang masak," ujar Nasir.

Nasir mengaku bahwa dirinya tidak hanya telibat melawan tentara Belanda, tapi juga ikut berperang melawan Jepang. Saat melawan Belanda yang agresi setelah Jepang menyerah, usianya masih 17 tahun, dan kawasan Aia Sirah (Perbatasan Padang-Solok) menjadi saksi sejarah bagaimana perjuangan bangsa Indonesia ketika itu.

"Saya ikut berperang melawan Belanda sekitar setahun lamanya. Kawasan Sitinjau Lauik itu menjadi benteng pertahanan bagi kami pejuang bangsa Indonesia. Di Aia Sirah, saya bersama pejuang lainnya menghadang tentara Belanda yang hendak ke Solok," bebernya.

Perperangan yang terjadi di Aia Sirah, lanjutnya, berlangsung malam hari. Tapi, Nasir mengaku tidak ingat lagi tanggal dan bulan peristiwa di Aia Sirah tersebut. Namun yang jelas, saat itu komandannya bernama Anwar dengan pangkat Kopral mengalami luka tembak di bagian pahanya.

"Beliau luka parah dan kami evakuasi menggunakan kain sarung. Saat ini saya tidak tahu di mana keberadaan Pak Anwar, apakah beliau masih hidup saya kurang tahu. Informasi terakhir yang ... Baca halaman selanjutnya