Kisah Veteran yang Sempat Tidak Makan 6 Hari Selama Agresi Belanda

"Apapun bisa kami jadikan senjata. Tidak hanya bambu runcing, minyak tanah dan bensin pun kami gunakan untuk melawan tentara Belanda ketika perang di Ladang Padi"
Nasir, memperlihatkan piagam kehormatan veteran saat ditemui di rumahnya di Padang Besi (Ist)
Masjid Jami'k, sebuah masjid tua di Padang Besi.

Ketika di Gadut, lanjutnya, sejumlah tentara Hizbullah bersama beberapa orang tentara sukarela yang dilatih Jepang, melakukan perlawanan kepada Jepang. Perlawanan dimulai dengan memberikan Jelatang (tumbuhan yang daunnya bermiang yang dapat menyebabkan gatal jika tersentuh kulit) kepada senjata milik tentara Jepang.

"Tentara Hizbullah berhasil memberikan jelatang di senjata tentara Jepang, berkat adanya bantuan orang India yang menjaga gudang persenjataan tentara Jepang. Namanya saya tidak tahu, tapi beliau seorang muslim.

Setelah senjata digenggam tentara Jepang, kemudian tentara Jepang itu kulitnya gatal-gatal. Tentara Hizbullah bersama pasukan sukarela langsung menyerang dan merebut senjata itu dari tangan Jepang," katanya.

Saat era menjelang kemerdekaan, M Yatim mengaku bahwa dirinya tidak ikut terlibat secara langsung berjuang melawan tentara Jepang, namun dirinya aktif membantu tentara Hizbullah, terutama membantu penyediaan beras selama berlangsungnya perperangan melawan Jepang di Kota Padang.

"Saya hanya membantu pejuang untuk menyiapkan beras sebagai bekal. Kebetulan saya ketika itu punya Lesung (alat tradisional dalam pengolahan padi atau gabah menjadi beras) di kawasan Parak, Kelurahan Tarantang. Setelah padi jadi beras, pejuang (tentara Hizbullah) datang menjemputnya. Sebagai upahnya, saya diberikan sejumlah beras oleh tentara Hizbullah," katanya.(*)