Angku Bahar, 50 Tahun Gantungkan Hidup dari Pelepah Tulang Daun Nyiur

"Ada anak-anak saya, namun juga susah ekonominya. Itu contoh si Mai (anaknya), sudah janda dan punya lima orang anak yang dihidupkannya"
Angku Bahar saat meraut pelepah daun nyiur di teras rumah. (KLIKPOSITIF/ Rahesa)

PADANG PARIAMAN, KLIKPOSITIF -- Di tengah-tengah usaha Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman membangun sektor ekonomi dengan berbagai program, Angku Bahar warga Batu Gadang, Sungai Garinggiang juga tengah berjuang hidup dari penghasilan jual sapu lidi.

Angku Bahar, di usia 90 tahun tampak fokus meraut tulang pelepah nyiur. Di bibirnya terselip sebatang rokok nipah, satu per satu lidi dipisah dari pelepah daun nyiur dengan menggunakan sebilah pisau lipat.

Kerap dipanggil Angku, dia mengaku telah melakoni pekerjaan serabutan selama 50 tahun. Tak pernah mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), tak membuat Angku Bahar surut berusaha meraup sedikit upah dari penjualan sapu lidih yang terbilang murah.

"Lah 50 tahun Den (Sudah 50 tahun saya) kerja ini, semenjak sapu lidi satu ikat Rp200. Kini lah turun pula harganya, dari Rp1.000 per ikat menjadi Rp800, " sebut Angku di teras rumah kosong, tempat ia meraut pelepah nyiur setiap harinya, Batu Gadang, Sungai Garinggiang, Rabu 14 Agustus 2019.

Ketika dirinci penghasilan ia selama satu hari, Angku bahar dapat rupiah dengan jumlah tak seberapa. Namun baginya uang Rp8.000 setiap hari yang didapat dari penjualan sepuluh ikat sapu lidi, bak oase ditengah gurun pasir, bisa menghilangkan dahaga.

"800 rupiah saikek (satu ikat). Di kali 10, jadi 8 ribu, segitu hasil seharian. Alhamdulillah Yuang (Alhamdullillah nak), " kata dia sembari senyum.

Setiap hari, Angku bisa menyelesaikan sepuluh ikat sapu lidih. Di jual kepada warga sekitar seharga 800 rupiah per ikat. Dari hasil penjualan yang ia tabung, dengan itulah Angku Bahar bergantung hidup.

"Ada anak-anak saya, namun juga susah ekonominya. Itu contoh si Mai (anaknya), sudah janda dan punya lima orang anak yang dihidupkannya," kata Angku.

Saat itu Mai anak Angku Bahar juga ada di sekitar lokasi, ia berumur 40 tahun, menghidupkan 5 orang anak sementara suaminya telah meninggal ... Baca halaman selanjutnya