Riza Falepi: Seluruh Warga Payakumbuh Adalah Putera-Puteri Pejuang

"Kita ini semuanya anak pejuang. Tidak ada orangtua kita yang tak ikut berjuang melawan penjajah. Dan Jembatan Ratapan Ibu ini adalah bukti sejarah"
Prosesi pengibaran bendera raksasa di Jembatan Ratapan Ibu, Kota Payakumbuh. (KLIKPOSITIF/Taufik Hidayat)

PAYAKUMBUH, KLIKPOSITIF -- Hadiri pengibaran bendera raksasa di Jembatan Ratapan Ibu, Sabtu (17/8) sore, Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi menyebut bahwa seluruh warga di daerahnya tersebut merupakan putera-puteri pejuang.

Keberadaan Jembatan Ratapan Ibu yang dibangun di masa penjajahan Belanda menjadi saksi bagaimana banyaknya pemuda asal Payakumbuh yang harus meregang nyawa karena tak ingin berada di bawah ketiak penjajah.

"Kita ini semuanya anak pejuang. Tidak ada orangtua kita yang tak ikut berjuang melawan penjajah. Dan Jembatan Ratapan Ibu ini adalah bukti sejarah," kata Riza Falepi usai prosesi pengibaran bendara raksasa berkuran 17 X 45 M tersebut.

Menurut Riza, sebagai generasi penurus, warga Payakumbuh harus memaknai perjuangan nenek moyang itu dengan kerja keras untuk merubah nasib.

"Kita harus berubah ke arah yang lebih baik. Baik cara berfikir ataupun cara bekerja. Kalau semangatny semangat pjuang, Insya Allah kita pasti bisa," tegas Riza.

Meski tinggal di daerah dengan potensi alam yang cukup besar, Riza menilai bukan waktunya lagi bagi warga Payakumbuh untuk bersantai.

"Selama ini kita sudah dimerdekakan oleh kakek-kakek kita. Sekarang giliran kita untuk berjuang. Jangan hanya sampai mengibarkan bendera saja. Kita harus sama-sama memakmurkan warga Payakumbuh," jelasnya.

Sementara tokoh masyarakat setempat, Fakhrul Umar Datuak Tuah Nan Basago menyebut, Jembatan Ratapan Ibu adalah bukti sejarah yang dibangun pada 1840-1841.

"Lebih 1,5 abad berdiri bentuk Jembatan Ratapan Ibu ini tetap kokoh. Ini termasuk salah satu jembatan tertua di Sumbar," katanya.

Ia juga mengungkapkan sedikit sejarah Jembatan Ratapan Ibu yang di masa penjajahan dijadikan Belanda sebagai lokasi eksekusi pemuda Payakumbuh yang dinilai memberontak.

"Ada pendapat yang menyebut sudah lebih 90 pemuda yang dieksekusi di sini. Juga ada pendapat yang menyebut 120 pemuda," pungkasnya. (*)