Nelayan Persiapan Maligi Pasbar Tak Bisa Melaut, Ini Penyebabnya

Perahu nelayan di sekitar muara pantai maligi yang hampir satu bulan bersandar
Perahu nelayan di sekitar muara pantai maligi yang hampir satu bulan bersandar (Istimewa)

PASAMAN BARAT , KLIKPOSITIF -- Sepanjang satu kilometer terjadi abrasi di sekitar bibir muara pantai maligi, Kenagarian Persiapan Maligi, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia Kabupaten Pasaman Barat ( Pasbar ) - Sumbar.

"Akibat itu, sejumlah rumah penduduk pun mulai terancam, lantaran bibir muara yang kian mendekat," kata Sekretaris Nagari Persiapan Endrian kepada wartawan, Kamis (29/8).

baca juga: Diduga Hilang Kendali, Pedagang Jeruk Tewas Tabrak Truk Fuso Sedang Parkir di Pasbar

Dijelaskan, kayu hutan yang ada di sepanjang pantai sebagai penyangga tidak bisa menahan gelombang tinggi yang terjadi, sehingga abrasi pantai tidak bisa dielakkan.

Sedangkan saat ini, pohon penyangga seperti payau atau mangrove sudah sangat jauh berkurang. Akibat abrasi itu juga, membuat pendangkalan di bibir muara, sehingga perahu para nelayan tidak bisa melalui muara untuk melaut.

baca juga: Ambulans Berisi Jenazah Tabrakan dengan Ertiga di Sarik Pasbar

"Masyarakat sekitar hampir satu bulan tidak bisa melaut. Warga hanya bisa berdiam di rumah saja dan pasrah hingga keadaan membaik seperti sedia kala. Kami juga mengimbau, agar warga jangan mendekat ke bibir pantai yang sudah terkikis karena sangat berbahaya," imbaunya.

Di samping itu, tempat perahu nelayan untuk berlabuh pun sudah sangat dekat dengan muara. Tentu jika terjadi gelombang pasang atau terjadi banjir dari hulu sungai, membuat kekhawatiran masyarakat meningkat dan bisa menimbulkan kerugian besar untuk warga.

baca juga: Masyarakat di Air Haji Pasbar Tutup Jalan Masuk Menuju PT Agrowiratama, Ada Apa?

Sementara salah seorang warga setempat, Eka menyampaikan sudah sekitar satu bulan gelombang tinggi terus terjadi. Menurutnya hal ini merupakan dampak dari angin selatan yang begitu besar.

Menurutnya, dulu bibir muara Pantai Maligi cuma berdiameter 100 meter. Namun sekarang hampir berdiameter satu kilometer persegi. Dengan bergesernya bibir muara, terlihat kondisi ini sangat berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu.

baca juga: Gelar Pilkada di Tengah COVID-19, KPU Pasbar Butuh Tambah Anggaran

"Kami berharap perhatian dari pemerintah daerah dan pihak terkait agar membantu kami untuk menimalisir keadaan yang terjadi di Maligi ini. Sebab sebagaian dari warga kampung Maligi ini menggantung kan hidup dari hasil laut," harap Eka.

[Irfan Pasaribu]

Penulis: Iwan R