Mengapa Orang Pesisir Selatan Banyak di Wamena? Begini Sejarahnya

Tetua Perantau Minang di Wamena Baraf Mat'ani
Tetua Perantau Minang di Wamena Baraf Mat'ani (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Kerusuhan 23 September 2019 di Wamena membuka banyak tabir, mulai dari sembilan korban kerusuhan perantau Minang semuanya dari Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Belakangan juga diketahui bahwa mayoritas perantau Minang di Wamena asal Pessel.

Tentu ada alasan dan sejarah mengapa Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua menjadi rantau yang banyak ditempati perantau asal Pessel.

baca juga: Pemerintah Perpanjang Masa Pelaksanaan Pekerjaan Venue PON XX

Tetua Perantau Minang di Wamena Baraf Mat'ani menguraikan, tahun 70an telah ada empat orang Sumatera Barat (Sumbar) di Wamena. Keberadaan mereka ada yang dinas sebagai abdi negara dan ikut suami karena dinas di Wamena.

Ada juga karena faktor ekonomi kemudian melakukan aktivitas dagang di pasar-pasar sekitar Wamena. Empat orang dari Sumbar yang berada di Wamena itu atas nama Dania, Jumati, Haji Iwan (saat ini belum haji), Hamzah Tanjung.

baca juga: PON XX Papua 2020 Ditunda Hingga Oktober 2021

"Februari 1978 atau sekitar 40 tahun lalu saya ditugaskan oleh Badan Urusan Tenaga Kerja Sukarela Indonesia (BUTSI) di Wamena," kata perantau Minang yang pertama menjajakan kaki di Wamena.

Baraf Mat'ani merupakan orang Lampung yang pernah bertugas di Sumbar dan menikahi perempuan asal Kabupaten Solok, kemudian pindah tugas ke Wamena. 

baca juga: Komite II DPD RI Minta Pemerintah Evaluasi Keberadaan Pasukan Non-Organik di Papua

"Saya dijemput empat orang ini saat pertama kali tugas di Wamena. Dari empat tersebut, Haji Iwan asal Pesisir Selatan," katanya mulai mengingat sejarah bagaimana orang Pessel menjadi Mayoritas di Wamena.

Kebiasaan perantau, setiap hari raya atau pulang kampung selalu membawa sanak keluarga ke Wamena. Hal itu dilakukan haji Iwan setiap pulang ke Pessel. Bahkan sekali bawa mencapai 8 orang ke Wamena.

baca juga: 63 Tapol Papua Desak Kasusnya Dibawa ke Meja PBB

"Saya sendiri baru mengajak istri ke Wamena pada tahun 1981, kemudian pada Oktober 1985 kami membentuk lembaga perantau Minang Balim Saiyo yang kemudian menjadi Ikatan Keluarga Minang," tutur Sumando urang Minang ini.

Dijelaskannya, dari kebiasaan mengajak keluarga memantau membuat orang orang Pesssl menjadi maperantau terbanyak di Wamena. "Mereka mengisi ruko-ruko di pasar-pasar Wamena," terangnya.

Sementara itu Sekretaris Ikatan Keluarga Minang Wamena Nofri Zendra menjelaskan, perantau Minang dari Pessel Selatan mayoritas dari Kecamatan Bayang, Batang Kapas, Sutera dan Lengayang.

"Perantau dari Pessel mayoritas berdagang mulai dari usaha rumah makan, bahan pokok hingga elektronik," ujarnya.

Nofri membenarkan terkait kebiasaan perantau Pessel mengajak keluarga ke Wamena hingga saat ini 99 persen asal Pesisir Selatan. Bahkan delapan orang korban kerusuhan Wamena merupakan satu garis keluarga.

"Saya sendiri diajak paman saya ke Wamena tahun 2001 lalu, kemudian seiring waktu mengajak keluarga lain untuk berdagang di Wamena," akuinya.

Menurut Nofri, perantau perantau dari Pessel mengisi ruko-ruko di pasar Baru dan pasar Wouma Mawena. Seiring waktu perantau sudah sangat membaur dengan masyarakat setempat.

"Bahkan saat kerusuhan kemarin, kami diselamatkan warga setempat, ada yang sembunyikan di gereja sampai aparat keamanan datang dan kemudiandiungsikan ke Kodim," katanya menjelaskan perantau dan masyarakat setempat sangat akur," (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir