Optimalkan Pengawasan Pemilu di Pasbar, Bawaslu Gandeng Komunitas Seni dan Budaya

Salah satu kesenian dan budaya dari suku mandailing di Pasaman Batat, yakni Gondang Sembilan yang dipertunjukkan di acara sosialisasi tersebut.
Salah satu kesenian dan budaya dari suku mandailing di Pasaman Batat, yakni Gondang Sembilan yang dipertunjukkan di acara sosialisasi tersebut. (KLIKPOSITIF/Irfan Pasaribu)

PASAMAN BARAT, KLIKPOSITIF -- Guna optimalkan pengawasan pemilu di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) setempat gandeng komunitas seni budaya dan elemen masyarakat di daerah itu.

Ketua Bawaslu Kabupaten Pasbar Emra Patria mengatakan, politik uang, sara dan kampanye hitam menjadi hal yang perlu diawasi oleh Bawaslu dan masyarakat dari segi pengawasan partisipatif.

"Ini perlu kita lakukan karena mengingat minimnya jumlah petugas Bawaslu, baik di tingkat kecamatan, nagari hingga di TPS," katanya di hadapan pegiat kesenian dan budaya dalam acara sosialisasi pengembangan pengawasan partisipatif di Aula Hotel Guchi Batang Toman, Rabu (4/12/2019).

Baca Juga

Untuk itu jelas Emra, melalui komunitas seni dan budaya ini diharapkan dapat menyampaikan pesan-pesan pengawasan di setiap pementasan yang dilakukan, agar partisipasi masyarakat meningkat.

Ia melanjutkan, Bawaslu sengaja melibatkan sejumlah elemen kesenian di Pasaman Barat sebagai salah satu media penyampaian pesan pesan pengawasan pemilihan kepala daerah di Pasbar nantinya.

Kelompok kesenian dan budaya dalam praktek nya selalu bersentuhan dengan masyarakat, sehingga dinilai efektif menyampaikan pesan pengawasan dan lebih mudah diterima," jelas Emra.

Emra menerangkan, di Pasbar ada tiga etnis besar, tentunya kesenian dan budaya tidak akan sama. Untuk itu perwakilan tiga etnis pegiat kesenian suku ini yakni suku Minangkabau, Mandailing dan Jawa sengaja diundang.

"Kita sengaja mengundang untuk memberikan penjelasan dan sosialisasi tentang pentingnya pengawasan partisipasi masyarakat. Karena mereka bisa melakukan melalui bait pantun dan lirik di masing-masing bidang untuk disampaikan di setiap pementasan," terangnya.

Ia menilai, tiga jenis kesenian ini terus menerus tampil di tengah masyarakat. "Kami akan berusaha bekerjasama dengan pegiat kesenian, sehingga semua pesan pengawasan sampai kepada masyarakat, baik menggunakan bahasa atau lirik kesenian mereka," ulasnya.

Sementara itu, Koordinator Pengawasan Humas dan Hubal Bawaslu Pasaman Sumbar Vifner meminta peran serta semua elemen ikut mengawasi pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak di 23 September 2020 mendatang.

Semua pegiat kesenian bisa menyampaikan pesan pengawasan melalui pantun atau syair sesuai dengan kebudayaan daerah serta suku masing-masing. "Kami berharap semua pegiat kesenian bisa ikut menyampaikan pesan pengawasan pemilu di sekitar lingkungan dan tempat pementasan," harapnya.

Ia menjelaskan, politik uang merupakan hal paling rawan selama pelaksanaan Pilkada di Sumatera Barat, khusus di Pasaman Barat. Bawaslu sudah menggelar sosialisasi secara masif dan pengawasan saat tahapan dan pelaksanaan pemilu, hingga masa pemungutan suara nantinya.

"Selama pemilu lalu petugas sudah membuat sejumlah regulasi pencegahan, pengawasan hingga penindakan terhadap pelanggaran pemilu," jelas Vifner.

Kata Vifner, ada beberapa poin yang perlu diantisipasi yakni, kegiatan politik uang atau money politik, politik indetitas, politik suku, agama, oligarki politik dan kampanye hitam. "Beberapa item ini dapat mengancam dan merusak demokrasi di Indonesia," katanya.

Untuk itu berharap, agar semua lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi menciptakan pemilu yang bersih, salah satunya dengan cara melaporkan peristiwa atau pelanggaran pemilu yang terlihat," harapnya.

"Ke depan kita berencana melibatkan elemen lainnya sebagai mitra, untuk menciptakan pemilu yang bersih dan aman, serta menghasilkan pemimpin yang berkualitas berdasarkan demokrasi," imbuhnya.

[Irfan Pasaribu]

Editor: Iwan R