Enam Rumah Warga Rusak Akibat Tanah Retak di Nagari Koto Alam Limapuluh Kota

Kondisi rumah warga yang rusak karena retaknya tanah.
Kondisi rumah warga yang rusak karena retaknya tanah. (Ist)

LIMAPULUH KOTA, KLIKPOSITIF -- Ativitas penambangan yang menggunakan bahan peledak mengakibatkan retaknya tanah di Nagari Koto Alam, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota. Retakan di tanah itu juga merusak enam unit rumah milik warga.

Rumah warga yang rusak tersebut terletak di Jorong Simpang Tiga. Akibatnya, warga tidak bisa lagi menghuni rumahnya dan harus mengungsi ke rumah keluarga.

Salah seorang pemilik rumah, Uwan menyebutkan sejak hujan yang tinggi beberapa hari terakhir terjadi gerakan tanah yang membuat dinding dan pondasi rumah menjadi retak.

Baca Juga

"Rumah saya tidak jauh dari lokasi longsor kemarin (Selasa). Ada gerakan tanah dan rumah saya sudah rusak," kata Uwan, Kamis (12/12).

Sementara itu, Wali Nagari Koto Alam Abdul Malik mengatakan adanya pergerakan tanah di Koto Alam akibat curah hujan yang tinggi beberapa hari terakhir dimana ada enam buah rumah yang rusak.

"Memang ada enam buah rumah yang rusak. Itu akibat curah hujan yang tinggi di Koto Alam dan membuat tanah bergerak," terangnya.

Selain Jorong Simpang Tiga, retaknya tanah juga terjadi di Jorong Polong Dua. Di lokasi tersebut, retakan tanah sepanjang 300 meter dengan lebar sekitar 1 meter.

"Selain aktivitas pertambangan yang menggunakan bahan peledak, ini juga diperparah oleh intensitas hujan yang tinggi," kata salah seorang warga Jorong Polong Dua llham Uwo, Kamis.

Ia mengatakan meski retakan berada di Jorong Batu Hampa namun juga mengancam Jorong Polong Dua. Lebih dari 300 jiwa di jorong Polong Dua sekarang tengah dihantui longsoran tanah dari Jorong Batu Hampa.

"Sekarang di Polong Dua tinggal menunggu tanah yang roboh saja di Jorong Batu Hampa. Retakannya sudah selebar satu meter. Kami yang di Jorong Polong Dua, tinggal menunggu ditimbun oleh longsoran di atas," katanya.

Dijelaskannya, tiga tahun lalu retakan tanah di atas desanya ini belum ada dan baru terlihat dalam dua tahun terakhir yang juga bertepatan dengan aktivitas tambang.

"Orang yang menambang itu pakai dinamit. Tidak jauh dari sini, hanya berkisar satu kilometer," sebutnya. (*)

Penulis: Taufik Hidayat | Editor: -