Darurat Militer, 16 WNI di Filipina Minta di Evakuasi

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

KLIKPOSITIF -- Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menjelaskan Warga Negara Indonesia ( WNI ) yang saat ini berada di wilayah darurat militer di Marawi, Filipina, telah meminta bantuan agar bisa dievakuasi.

“Kita sudah menerima permintaan dari 16 WNI itu mereka dibantu evakuasi. Memang sampai sekarang kita tidak atau belum bisa bergerak karena dari kontak kita dengan otoritas setempat, operasi masih terus dilakukan. Sehingga tidak mungkin ada pergerakan apapun,” kata Retno Marsudi, seperti dilansir dari laman Sekretaris Negara.

baca juga: Jika Kembali Maju di Pilpres 2024, Ini Prediksi Lawan-lawan yang Akan Dihadapi Prabowo

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari otoritas setempat, menurut Menlu, saat ini ke-16 WNI tersebut diketahui berada di salah satu masjid di Kota Marawi. “Mereka ada di situ dan mereka menurut informasi dari otoritas setempat dalam kondisi yang baik,” ujarnya.

Sebelumnya Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal, melalui pesan singkat Senin (29/5) mengemukakan, mereka ini adalah anggota Jamaah Tabligh yang melakukan khuruj, berdakwah selama 40 hari, di Filipina. Kebetulan markas Jamaah Tabligh di Filipina ada di Marawi.

baca juga: Ini Link Pengumuman SBMPTN 2020 Jumat 14 Agustus Mulai Pukul 15.00 WIB

Menlu Retno Marsudi menjelaskan, bahwa pihaknya melalui KJRI Davao City sudah melakukan kontak baik dengan kelompok yang beranggotakan 10 orang maupun kelompok yang beranggotakan 6 orang. “Jadi itu update yang dapat saya berikan sejauh ini,” sambungnya.

Terkait kemungkinan adanya WNI yang meninggal dalam konflik antara pihak militer dengan kelompok bersenjata di daerah Marawi, Menlu mengaku belum bisa mengonfirmasi informasi tersebut, Ia menjelaskan, saat ini situasinya emergency. Sehingga Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mencoba untuk menahan dulu situasinya seperti apa.

baca juga: Gunung Sinabung Erupsi, Suasana Mencekam 15 Menit Langit Genap Gulita

“Setelah itu, baru kita bicara bagaimana, dan bagaimananya itu biasanya kita tidak hanya terpaku pada satu skenario,” kata Menlu. (*)

Penulis: Eko Fajri