20 Juta Lansia Terdata di Indonesia, Menkes : Perlu Perhatian Serius

Anggota lansia menarikan Tari Selendang dalam acara Kongres Nasional VII Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia.
Anggota lansia menarikan Tari Selendang dalam acara Kongres Nasional VII Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia. (KLIKPOSITIF/ Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Menteri Kesehatan Nila Djuwita Farid Moeloek mengatakan, jumlah penduduk lanjut usai (lansia) di Indonesia saat ini mencapai 20 juta jiwa. Diperkirakan pada tahun 2030 mendatang mencapai angka 40 juta jiwa. Dari jumlah itu, perlu perhatian serius, karena saat ini perhatian terhadap lansia masih belum optimal.

"Sebelum saya jadi menteri sempat didatangi Wali Kota Surabaya. Beliau sangat sedih siapa nanti yang akan memperhatikan lansia ini, mereka banyak terlantar. Dari situ kami mendorong agar lansia mendapatkan perlakuan yang baik," katanya usai membuka Kongres Nasional VII Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia, di Padang, Sabtu.

baca juga: Kemenkes Imbau Lansia dan Anak-anak Salat Id di Rumah Saja

Menkes Nila menjelaskan, dari berbagai pelayanan lansia harus menjadi prioritas, sebab kondisi mereka kadang kala butuh bantuan dari manusia lain. Mereka butuh perawatan khusus juga secara medis karena sangat rentan terhadap penyakit.

“Kalau bisa memang layanan untuk lansia disatukan. Coba bayangkan kalau lansia harus berobat ke poli gigi, lalu jalan lagi ke poli yang lain. Kasihan mereka, kadang untuk jalan saja butuh tenaga banyak,” ungkapnya.

baca juga: Pemko: 40 Persen Lansia di Pariaman Masih Produktif, Bergerak Dibidang Kerajinan Tangan

Selain itu katanya, butuh kesabaran dalam menghadapi lansia sebab gejala pikun mulai menyerang. "Ya begitu, harus sabar, kadang kita ngomong A dikira B, kita becanda malah dibilang marah. Coba kalau sudah tua nanti," selorohnya.

Menkes Nila mengungkapkan, metode dalam menghadapi lansia harus dengan cara pendekatan keluarga, sebab mereka butuh sentuhan dan perhatian serta pertolongan. Selain itu pemerintah mendorong agar lansia bisa kredit dan bisa memanfaatkan waktu senja dengan kegiatan bermanfaat.

baca juga: 30 Lansia di Padang Pariaman Dapat Bantuan Pemerintah

"Di luar negeri tua-tua masih bisa baca buku, kemana-mana bawa buku, malah masih ada yang perawatan," katanya.

Menurut Menkes, pendekatan secara keluarga sangat penting, karena mungkin para lansia jarang sekali mendapat asupan perhatian dari keluarganya. Dampaknya, banyak lansia yang mengalami gangguan secara psikologis. “Ketika anak atau menantu di rumah sibuk, lansia jarang terurus. Kejiwaan mereka bisa terganggu,” terangnya.

baca juga: 11 JCH Indonesia Meninggal di Arab Saudi

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno yang merupakan lulusan sarjana psikologi Universitas Indonesia membenarkan, lansia rawan mengalami gangguan social dan psikologis. Hal itu disebabkan kurangnya perhatian dari keluarga.

Lansia itu psikologisnya cenderung kembali seperti anak-anak. Mereka butuh perhatian besar. Kita sebagai keluarga harus meluangkan waktu untuk menemani mereka. Apakah untuk sekedar ngobrol,” tuturnya.

[Joni Abdul Kasir]

Penulis: Agusmanto