Relawan Dapur Umum ACT: Biar Allah SWT yang Gaji Saya

Relawan dapur ACT tengah sibuk untuk menyiapkan makanan
Relawan dapur ACT tengah sibuk untuk menyiapkan makanan (KLIKPOSITIF)

PALU, KLIKPOSITIF - Membantu sesama ditengah bencana tentunya bukanlah yang mudah dilakukan, saat kita sendiri juga ditimpa hal yang sama. Tentunya itu membutuhkan suatu kekuatan dan sikap ikhlas dari diri sendiri. Saat kita harus membuat orang tertawa ditengah bencana yang juga menimpa kita, tentunya itu akan menjadi ladang pahala dan pastinya keihklasan juga sedang diuji.

Namanya Isa (59) merupakan salah seorang relawan yang memasaka di dapur umum ACT yang berada di Kelurahan Alindau, Kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Saat sampai di lokasi, ia dan beberapa relawan lainnya sedang membungkus makanan untuk didistribusikan ke lokasi pengungsian yang ada di sekitar posko.

baca juga: ACT Bukittinggi Lepas Kapal Kemanusiaan Menuju Mamuju

Dalam seharinya, ia dan relawan lainnya memasak untuk 500 hingga 600 bungkus nasi dan lauk pauk serta sayuran untuk didistribusikan kepada warga yang ada di lokasi pengungsian. "Masaknya dimulai pukul 06.30 Wita. Kita sudah mulai siapkan bahan-bahannya hingga selesai pukul 10.00 atau 11.00 Wita. Setelah selesai, makanan langsung didistribusikan oleh relawan yang bertugas untuk itu. Kalau kita Ibu-ibu disini hanya memasak. Yang beli bahan ke pasar itu tim dari relawan. Setiap hari menu yang dimasak berbeda-beda. Ada ikan, ada telur, ada daging, dan lain sebagainya," katanya.

Untuk dirinya sendiri, jadwal memasak yang didapatnya adalah satu kali dalam tiga hari. "Jadi ada giliran yang didapatnya sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh relawan sehingga saya hanya mengikuti jadwal itu," katannya.

baca juga: ACT Sumbar Siapkan Kapal Untuk Angkut Bantuan Bencana Sulbar

Sejak menjadi relawan di dapur umum, tak sedikit warga lain yang bertanya apakah ia digaji dalam membantu memasak di dapur umum. "Namun saya hanya jawab dengan tersenyum. Jika ada yang bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama, maka saya akan jawab biar Allah SWT saja yang menggaji saya. Karena saya berfikir dengan situasi yang kita hadapi seperti ini, untuk bisa bertahan saja sudah sangat bersyukur," katanya.

Diakui Ibu lima anak dan delapan cucu ini, jika sudah selesai memasak setiap harinya, tak sedikit juga makanan yang dibawanya pulang. "Jika semuanya sudah selesai seperti ini, maka kami juga disediakan nasi bungkus, sambal dan sekardus mie instan oleh relawan untuk dibawa pulang," katanya sambil menunjukkan kantong besar berisi satu kardus mie instan.

baca juga: Melalui Pasarsedekah.com, ACT Berupaya Bangkitkan Gairah Ekonomi Umat dengan Pasar Digital Syariah

"Bagi saya dilibatkan dalam memasak untuk didistribusikan kepada saudara-saudara yang ada di sekitar lokasi ini adalah hal menyenangkan. Saya masih bisa membantu sesama disituasi seperti ini. Sudah sangat bersyukur," kata perempuan kelahiran 1959 ini.

Diakuinya, berkumpul dengan tetangga menjadi hal menyenangkan dalam melupakan kejadian yang terjadi pada 28 September 2018 lalu di daerahnya. "Bisa bercengkaram sambil memasak juga membantu melupakan kesedihan yang menimpa saya saat ini. Melupakan kejadian besar yang menimpa kami sebulan yang lalu," katanya.

baca juga: Miliki Kepedulian yang Tinggi, Kota Padang Dinobatkan ACT Sebagai Kota Dermawan

Walaupun rumahnya mengalami kerusakan yang cukup parah, namun ia yakin semuanya akan berlalu dengan cepat. "Ini adalah ujian untuk kami dan saya yakin hal ini akan bisa memberikan kekuatan kepada kami. Dan kami tentunya akan bangkit lagi," katanya.

Isa sehari-harinya berprofesi sebagai penjual kue bolu. Setiap harinya ia memproduksi kue bolu dalam ukuran besar dan kecil. Ia juga sering menerima pesanan kue dari tetangga atau pihak-pihak yang mengadakan pesta.

"Saat ini saya belum melanjutkan usaha. Dilanjutkan juga tak ada yang membeli. Karena masyarakat masih membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jadi belum cukup uang untuk membeli yang lain," jelasnya.

Saat ini, Isa dan keluarganya memilih tinggal di rumah mereka yang lain. "Rumah itu merupakan rumah kami yang lain, namun rumah itu masih setengah jadi sehingga kami menetap disana untuk sementara, sedangkan rumah yang rusak akibat gempa masih dikunci," tuturnya.

Penulis: Fitria Marlina