Angka Perceraian di Pasbar Menghawatirkan, 70 Persen Gugatan Istri

Ketua Pengadilan Agama Talu, Afrizal
Ketua Pengadilan Agama Talu, Afrizal (KLIKPOSITIF/ Irfan PS)

PASAMAN BARAT , KLIKPOSITIF -- Angka perceraian di Kabupaten Pasaman Barat , Sumatera Barat, berdasarkan data Januari sampai Oktober 2018, dari total perkara gugatan sebanyak 493 di Pengadilan Agama (PA) Klas II B Talu, 95 persen adalah kasus perceraian .

"Jumlah itu bisa lebih besar dari perkara permohonan yang sebanyak 266, mengingat tidak semua perkara perceraian didaftarkan atau melalui gugatan pengadilan ," kata Ketua Pengadilan Agama Talu, Afrizal kepada KLIKPOSITIF .com di ruang kerjanya, Rabu 7 November 2018 siang.

baca juga: Gubernur Sumbar Serahkan Bonus 1,6 Miliar Pada Atlet Berprestasi

"Angka perceraian di Pasaman Barat terus mengalami peningkatan tiap tahun. Tercatat dari Tahun 2012 sampai 2018, Pasaman Barat masih menempati posisi kedua setelah Padang di Provinsi Sumatera Barat," ungkapnya.

Afrizal menjelaskan, pemicu perceraian itu bervariasi, yang paling mendominasi di faktor ekonomi. Selain itu, faktor media sosial membayangi di urutan kedua untuk kasus pengajuan cerai. Sehingga menjadi awal pertengkaran yang berakhir di pengadilan , maka ratusan janda pun muncul.

baca juga: Ratusan warga Mengungsi Saat Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas

Kasus perceraian terbagi dalam dua pengajuan. Pertama, gugatan cerai dari istri sekitar 70 persen pengajuan dan talak oleh suami sebanyak 30 persen pengajuan. Itu di persentase kan dari 95 persen total 493 perkara yang masuk secara keseluruhan di PA Talu," jelas dia.

"Untuk usia perceraian bervariatif. Namun dalam perkara perceraian ini, yang mendominasi di usia 30 Tahun ke bawah. Karena di usia itu sering terjadi pertengkaran di akibat kan oleh pihak ketiga, seperti orang tua terlalu mencampuri urusan ekonomi rumah tangga anak dan hadir nya wanita atau pria idaman lain," terangnya.

baca juga: DPRD Minta Sekda Non Aktifkan Kasatpol PP Padang

Menurut Afrizal, solusi untuk menekan laju perceraian adalah menghindari pernikahan dini. Sebab pernikahan di usia muda itu, emosional para pasangan belum bisa terkontrol.

Selain itu penguatan pendidikan bagi pasangan juga sangat penting. Sebab kurang nya ilmu pendidikan dapat menimbul keputusan yang gegabah, bahkan sering tidak berpikir panjang dalam menyelesaikan suatu masalah di dalam rumah tangga.

baca juga: Kesadaran Gaya Hidup Sehat Meningkat, Ini Dukungan Pemerintah Untuk Industri Jamu dan Sejenisnya

Jumlah angka perceraian itu masih sangat mungkin bertambah. Karena dari tahun ke tahun angka itu tidak ada mengalami penurunan, bahkan terus meningkat.

Untuk itu dia berharap, karena kita tinggal ditengah kaum adat, maka peran keluarga harus lebih optimal, dan fungsi mediasi lembaga lokal seperti lembaga adat dan tokoh agama perlu dilibatkan," harap Afrizal. (Irfan PS)

Penulis: Eko Fajri