Menakar Kekuatan Darek dan Rantau dalam Pilgub Sumbar 2020

Kantor Gubernur Sumbar (Rumah Bagonjong)
Kantor Gubernur Sumbar (Rumah Bagonjong) (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PADANG, KLIKPOSITIF - Pemilihan Gubernur ( Pilgub ) di Sumatera Barat masih setahun lagi, namun beberapa sudah mulai gencar walaupun masih malu tapi mau. Artinya belum ada yang terang - terangan menyatakan maju.

Bertarung nantinya tentu dibutuhkan perhitungan yang matang termasuk perhitungan soal basis (wilayah). Selain itu tidak terlepas dari partai pendukung, elektabilitas calon dan tim sukses ikut menjadi faktor penentu kemenangan.

baca juga: Nasrul Abit Tinggalkan Rumah Dinas, Cuti Tanpa Tanggungan Negara

Di Minangkabau, dari dahulu masyarakat memakai istilah darek dan rantau. Darek adalah daerah teritorial perkembangan sejarah Minangkabau dan gunung Marapi menjadi simbolnya, bisa juga dimaknai sebagai daerah yang jauh dari pinggir sungai (darat).

Sedangkan rantau notabene dengan daerah pesisir pantai tempat para masyarakat terdahulu memantau atau meranca tempat baru untuk mencari kehidupan.

baca juga: Nasrul Abit Serahkan Jabatan Ketua Kwarda Pramuka Sumbar

Daerah darek barang tentu sudah jelas di Sumbar begitu juga dengan rantau. Seperti Bukittinggi, Agam, Limapuluh Kota, Padang Panjang, Tanah Datar Payakumbuh, Solok, Sawahlunto, Pasaman, Dharmasraya, Sijunjung, Solok Selatan dan Kota Solok bisa dikategorikan darek.

Sedangkan rantau, mulai dari Pesisir Selatan, Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Pasaman Barat dan Mentawai masuk rantau.

baca juga: Pemprov Sumbar Salurkan Bantuan Rp45 Juta untuk Korban Kebakaran di Maninjau

Direktur Eksekutif SBLF Research and Consultan Edo Andrefson menjelaskan, hal itu juga menjadi perhitungan dan tolak ukur masyarakat dalam menentukan pilihan hingga saat ini.

"Faktor kedaerahan mempengaruhi dalam memilih pemimpin di Sumbar," ujarnya kepada KLIKPOSITIF , Rabu, 10 Juli 2019.

baca juga: Jadi Cagub Pertama Asal Pessel, Rang Pasisia Diimbau Menangkan NA-IC di TPS

Menurut Edo perlu 'dikawinkan' tokoh darek dan rantau untuk calon gubernur Sumbar 2020 agar sesuai selera publik. Edo menjelaskan, ada beberapa tokoh darek mulai mengapung diantaranya, Riza Felepi (Walikota Payakumbuh), Indra Catri (Bupati Agam), Mahyeldi Ansharullah (Walikota Padang), Mulyadi (Anggota DPR RI), dan Fakhrizal (Kapolda Sumbar).

Sementara tokoh rantau, Nasrul Abit (Wagub Sumbar), dan Ali Mukhni (Bupati Padangpariaman). "Rata-rata incumbent dan kepala daerah yang sudah dua periode. Tapi tidak tertutup kemungkinan muncul nama lain sebagai kuda hitam," jelasnya.

Dilanjutkannya, walaupun darek dan rantau mempengaruhi, aroma pemilihan presiden juga akan berdampak kepada Pilgub , bahkan pemilihan bupati (Pilbup). Masyarakat Minangkabau yang mayoritas pendukung Prabowo akan melihat tokoh sikap mereka (pemimpin) saat Pilpres.

"Keberpihakan tokoh ini atau calon ini nantinya juga akan menjadi pertimbangan publik, sebab aroma Pilpres masih sangat tinggi saat Pilkada nanti," tukasnya. (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir