BMKG Soft Launching Sistem Peringatan Dini Gempa

(BMKG)

KLIKPOSITIF -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) melakukan soft launching uji coba Earthquake Early Warning System ( EEWS ) atau sistem peringatan dini gempa , Kamis 15 Agustus 2019.

Kepala Pusat Gempa dan Tsunami, Rahmat Triyono dalam siaran pers yang dimuat dalam laman bmkg .go.id menyatakan konsep dasar EEWS menggunakan "end to end system" yang mampu memberikan peringatan dini gempa kuat kepada masyarakat.

baca juga: Gempa di Pessel, Dirasakan di Sejumlah Daerah di Sumbar

EEWS mencakup 3 sistem, yaitu sistem monitoring yang mendeteksi gempa bumi di hulu, kedua adalah system automatic processing yang mengolah data secara cepat, dan ketiga adalah system diseminasi penyebarluasanan informasi/peringatan dini di hilir, ditujukan kepada masyarakat yang disertai saran untuk menyelamatkan diri.

"Konsep ini bekerja dengan memanfaatkan selisih waktu tiba gelombang P (pressure) yang datang lebih awal dan gelombang S (shear) yang datang beberapa detik kemudian. Setiap terjadi gempa bumi, gelombang P akan tiba di sensor lebih awal selanjutnya dalam beberapa detik kemudian tiba gelombang S yang sifatnya destruktif/merusak," tutur Rahmat.

baca juga: Rabu Pagi, Warga Pessel Dikejutkan Gempa

Saat terjadi gempa , tambah Dia, sensor EEWS akan merekam datangnya gelombang P, sistem secara spontan menginformasikan estimasi tingkat guncangan yang mungkin terjadi dan waktu kedatangan gelombang S. Sensor-sensor ini akan dipasang di berbagai tempat yang berdekatan dengan sumber gempa megathrust dan sumber gempa sesar aktif.

EEWS merupakan sistem deteksi dini gempa kuat dengan mekanisme memberikan peringatan dini berdasarkan prediksi waktu tiba gelombang S yang berpotensi menimbulkan guncangan signifikan dengan memanfaatkan gelombang P untuk memberikan Sinyal warning, dari sensor EEWS ini akan dikirimkan melalui ke InaEEWS Center ( BMKG ), selanjutnya data diolah secara automatic dan hasilnya akan disebarkan ke receiver yang ada di stakeholder atau melalui mobile apps, receiver ini juga dapat dipasang pada objek vital seperti kereta cepat, MRT, industri vital, pusat keramaian (mall), dan area pemukiman dan perkantoran.

baca juga: Cuaca Buruk, Hilal Tidak Terlihat di Padang

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut, saat ini BMKG merasa tidak cukup hanya dengan memberikan informasi parameter gempa bumi yang disebarkan sesaat setelah terjadi gempabumi.

" BMKG akan memasuki era baru dengan membangun Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi (Indonesia Earthquake Early Warning System-InaEEWS). Sistem ini akan memberikan informasi lebih dini sebelum gempa kuat melanda suatu kawasan," ungkap Dwikorita.

baca juga: Tinjau Alat Peringatan Dini Gempa, Ini Pesan Bupati Irfendi Arbi

Sistem ini, kata dia, tidak saja bermanfaat bagi masyarakat agar dapat bertindak lebih cepat menyelamatkan diri, tetapi juga dapat mengamankan objek vital berbasis respon instrumen. Sistem transportasi cepat, MRT, penerbangan dan industri penting dapat dinon-aktifkan seketika (shut down), beberapa detik lebih awal sebelum gempa menibulkan guncangan dan kerusakan.

"Sistem ini tidak bertujuan untuk meramal kapan terjadi gempa besar, tetapi lebih kepada memberi peringatan kepada masyarakat bahwa akan terjadi gempa kuat dalam hitungan beberapa detik hingga beberapa puluh detik ke depan," imbuh Dwikorita.

BMKG berpandangan bahwa peringatan dini gempa meskipun dalam hitungan detik sebelum terjadi gempa , akan sangat berarti untuk menyelamatkan jiwa manusia dari kecelakaan yang fatal.

Sementara itu, Deputi Geofisika, Dr. Muhamad Sadly, M.Eng. menuturkan teknologi EEWS yang akan dijadikan ujicoba pembangunan dan kerjasama ini mengacu kepada sistem EEWS di Negara China.

Informasi yang diberikan oleh sistem peringatan dini gempa ini mencakup estimasi intensitas gempa , waktu tiba gelombang S, estimasi magnitudo gempa , dan lokasi episenter gempa .

Menurut Chinese Northwest Seismology (2002) Vol. 22 menunjukkan adanya korelasi antara waktu peringatan dini gempa EEWS dan rasio berkurangnya korban jiwa. Jika tersedia waktu emas selama 3 detik maka rasio berkurangnya korban mencapai 14%. "Sedangkan jika tersedia waktu emas selama 10 detik maka rasio berkurangnya korban mencapai 39%, dan jika tersedia emas selama 20 detik maka rasio berkurangnya korban mencapai 63%," tutup Sadly. 

Uji coba pembangunan sistem ini di-launching oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Duta Besar China dan dari Institute of Care Life of China, dan dilakukan pemasangan 10 unit sensor EEWS di wilayah Banten yang bertujuan untuk monitoring gempa bumi di wilayah Megathrust selatan Jawa.

Untuk tahap selanjutnya, akan dipasang 190 unit sensor yang akan berkonsentrasi di wilayah potensi gempabumi yaitu Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, dan Banten. Jika ujicoba ini berhasil maka akan dikembangkan secara masif di seluruh wilayah Indonesia. (*)

Penulis: Iwan R