Cerita Anak Sekolah di Wamena, Diserang saat Ujian Tengah Semester

Luki Hakim
Luki Hakim (KLIKPOSITIF/Halbert Caniago)

PADANG, KLIKPOSITIF  -- Kerusuhan di Wamena , Kabupaten Jayawijaya sangat membekas di benak Luki Hakim (13) seorang siswa kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Wamena .

Luki menuturkan, saat kejadian itu dirinya tengah mengikuti ujian pertengahan semester mata pelajaran Agama. "Kejadian itu sekitar pukul 08.00 WIT saat kami sedang melaksanakan ujian," ujarnya kepada KLIKPOSITIF .com saat tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kamis 3 Oktober 2019 malam.

baca juga: IKM Sulbar Malaqbi: Banyak Rumah Perantau Minang Rusak di Mamuju

Luki bersama puluhan teman-temannya yang berada di dalam kelas panik saat puluhan orang dari luar melempari batu ke dalam kelasnya.

"Saat itu kami langsung menutup pintu dan mengangkat meja dan kursi ke arah pintu," lanjutnya.

baca juga: Perantau Minang Sulbar di Tenda-tenda Pengungsian Berharap Bantuan dari Sumbar

Puluhan orang yang menyerang sekolahnya itu memaksa untuk membuka pintu dan berusaha mendobrak pintu kelas itu.

"Kami menahan pintu dengan menggunakan meja dan kursi serta menahannya menggunakan tenaga semampu kami," ujarnya.

baca juga: Ungguli Jeff Bezos, Ini Orang Terkaya di Dunia

Sekitar 30 menit ia bersama puluhan temannya yang juga merupakan pribumi tanah Papua menahan pintu kelas agar perusuh tidak masuk dan mengamuk di dalam kelas.

"Setelah 30 menit, kami langsung dijemput oleh beberapa orang personel dari TNI (Tentara Nasional Indonesia)," lanjutnya.

baca juga: Dibentuk di Tanggal Cantik, Hamdi Pimpin PKP Pusat

Luki bersama puluhan temannya langsung dibawa ke Makodim Jayawijaya 1702 sebagai tempat pengungsian pertama.

"Sampai di Kodim saya baru bertemu dengan orang tua saya. Saat itu saya masih syok," lanjutnya.

Setelah kerusuhan itu, ia masih menyisakan trauma untuk kembali ke Tanah Papua untuk melanjutkan pendidikannya.

"Kalau untuk kembali sekolah di sana saya tidak mampu lagi. Saya ingin sekolah di sini saja," sambungnya.

Jika orang tuanya ingin kembali ke Tanah Papua , ia memilih untuk melanjutkan pendidikan di kampung halamannya di Kecamatan Bayang Utara.

"Saya lebih memilih di sini (Sumbar) saja. Untuk kembali lagi saya sudah trauma dan lebih memilih di sini saja," lanjutnya.

Menurutnya, jika keadaan sudah benar-benar aman, orang tuanya akan kembali lagi ke Wamena untuk mengambil berkas-berkas yang tertinggal.

Baca juga : Kerusuhan Wamena , 50 Perantau Minang Tiba di BIM" href="http://news. KLIKPOSITIF .com/baca/58353/selamat-dari-tragedi-kerusuhan-wamena--50-perantau-minang-tiba-di-bim">Selamat dari Tragedi Kerusuhan Wamena , 50 Perantau Minang Tiba di BIM

[Halbert Caniago]

Penulis: Iwan R