Viral Kakek Beli Obat Pakai Duit Mainan, Begini Kisahnya

Siti Rahmah Yanti selaku Korwil S3 Bukittinggi-Agam serahkan bantun secara simbolis kepada Syafruddin
Siti Rahmah Yanti selaku Korwil S3 Bukittinggi-Agam serahkan bantun secara simbolis kepada Syafruddin (KLIKPOSITIF/Haswandi)

BUKITTINGGI , KLIKPOSITIF -- Video seorang kakek membeli obat dengan uang mainan menjadi viral di media sosial. Sang kakek tak sanggup menahan tangisnya, tatkala  diberitahu oleh petugas apotek, bahwa uang satu lembar Rp50 ribu yang akan digunakan untuk membeli obat itu adalah uang mainan anak-anak yang wujud fisiknya mirip dengan uang asli.

Viralnya kisah kakek ini membuat banyak simpati dari berbagai kalangan. Dari hasil penggalangan dana yang dilakukan, terkumpul uang sebesar Rp13 juta. Lalu, seperti apa kisahnya?

baca juga: Update COVID-19 di Agam Hari Ini, Dua Positif dan 13 Pasien Dinyatakan Sembuh

Peristiwa itu terjadi di Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam - Sumbar. Kakek yang viral itu bernama Syafruddin yang telah berumur 85 tahun, yang merupakan warga Cingkariang Kecamatan Banuhampu.

Anak Syafruddin bernama Suherman (53) menyebut, peristiwa itu terjadi pada Senin 11 November 2019 antara pukul 10.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB.

baca juga: Rekor 50 Kasus COVID-19 Dalam Sehari, Ini Kata Dinas Kesehatan Bukittinggi

Dikatakannya, ayahnya Syafruddin pergi sendiri ke salah satu apotek di kawasan Padang Lua dengan naik angkot. Namun sesampainya di apotek, ayahnya menangis setelah mengetahui jika uang yang dibawanya adalah uang mainan.

"Bapak saya matanya sudah rabun, jadi tidak jelas uang yang dipegangnya itu uang asli atau tidak. Karena itu adalah uang mainan, tentu orang apotek tidak mau menerimanya. Tapi mungkin karena kasihan, bapak saya tetap dikasih obat sesak nafas sebanyak tiga strip," ujar Suherman, Selasa 12 November 2019.

baca juga: Kota Padang dan Kabupaten Agam Zona Merah COVID-19, Ini yang Seharusnya Diterapkan

Suherman mengklarifikasi jika uang itu belum tentu hasil penjualan japan (labu siam). Ia mengakui jika ayahnya seorang petani japan dan menjual japan, baik kepada toke atau langsung menjual ke pasar.

"Kami tidak tahu apakah uang mainan itu didapatkan hasil penjualan japan sehari yang lalu, seminggu yang lalu atau kapan, kami tidak tahu. Bisa jadi juga uang mainan itu tidak hasil penjualan japan, karena ada juga beberapa orang yang pernah tukar duit. Jadi, asal muasal uang mainan itu kami juga tidak tahu," jelas Suherman.

baca juga: Jalan Bukittinggi-Medan Amblas, Berpuluh Kendaraan Antri

Sementara itu,  Komunitas Sedekah Seribu Sehari (S3) wilayah  Bukittinggi - Agam melakukan penggalangan dana terkait kejadian itu. Hasilnya, dalam waktu dua hari terkumpul dana sebesar Rp13 juta. Secara simbolis bantuan itu diserahkan langsung kepada Syafruddin di rumah kediamannya, baik dalam bentuk barang maupun dalam bentuk uang tunai pada Selasa 12 November 2019.

"Kemarin kami dapat berita tentang Bapak Syafruddin, tentang masalah japan. Kami diminta oleh warga untuk menggalang dana untuk membantu beliau dan keadaan beliau memang berhak kita bantu. Alhamdulillah dana yang terkumpul lebih kurang Rp13 juta, dan kita sudah salurkan berupa kasur, perlengkapan tidur, ada bantal, ada selimut, dan lain-lain juga kami tinggalkan untuk belanja. InsyaAllah sisanya akan diberi pada hari berikutnya," ujar Siti Rahmah Yanti selaku Korwil S3 Bukittinggi - Agam .

Menurutnya, uang hasil penggalangan dana itu juga akan digunakan untuk membantu biaya sekolah anak Syafruddin yang paling kecil, yang masih duduk di kelas satu di salah satu SMK di Kota Bukittinggi . Selain itu, juga akan dibuat kartu BPJS, karena selama ini Syarifuddin tidak pernah memiliki kartu BPJS, sehingga nantinya diharapkan bisa meringankan biaya pengobatan Syafruddin di rumah sakit.

Dari pantauan KLIKPOSITIF , Syafruddin tinggal di rumah semi permanen yang agak sempit. Kondisi rumah dan kamarnya sangat memprihatinkan, sehingga layak untuk dibantu.

Sehari-harinya, Syafruddin hanya merupakan petani japan yang hidup dari hasil penjualan japan. Sekali panen, ia bisa mendapat sekitar 30 hingga 60 kilogram japan, dengan harga perkilonya hanya Rp2 ribu. Dalam satu minggu, ada sekitar dua kali panen. Sayuran japan itu sendiri ditanam di belakang rumahnya seluas tujuh kali sembilan meter. (*)

Penulis: Iwan R