PSG Kembali Terendam dan Dipenuhi Sampah Kiriman

(Ist)

KLIKPOSITIF - Kompleks Perumahan Permata Surau Gadang (PSG), Kecamatan Nanggalo, Kota Padang kembali kebanjiran dalam sepekan terakhir. Bahkan, air yang merendam badan jalan dan nyaris memasuki rumah itu juga membawa sampah kiriman dari hulu. Warga dan anak-anak sekolah sering terganggu ketika ingin pergi kerja dan sekolah ke luar kompleks.

Baca Juga: Banjir Bandang Solok Selatan, Dengar Letusan Keras Hingga Hampir Kehilangan Keluarga" href="http://news.m. KLIKPOSITIF .com/baca/61281/cerita-saksi-mata-banjir-bandang-solok-selatan--dengar-letusan-keras-hingga-hampir-kehilangan-keluarga" target="_blank">Cerita Saksi Mata Banjir Bandang Solok Selatan, Dengar Letusan Keras Hingga Hampir Kehilangan Keluarga

baca juga: 7 Nagari di Batangkapas Pessel Terdampak Banjir, Rumah dan Jembatan Rusak Parah

Baca Juga: "Selamat Jalan Robert", Kisah Edi Muli Berkawan dengan Buaya Selama 31 Tahun

Dikutip dari Padang Ekspress, jalan utama yang sebagian sudah beraspal dan blok kompleks yang belum lama dibetonisasi itu terus tergerus. Kondisi tersebut semakin parah dirasakan ratusan warga Permata Surau Gadang sejak beberapa tahun terakhir.

baca juga: Hujan Deras di Kota Padang, Jundul Rawang Banjir Lagi

“Dalam dua tahun terakhir aliran debit air makin besar dan deras. Air yang memicu banjir itu berasal dari Irigasi Sawahlua yang tidak tertampung oleh drainase kompleks yang kecil. Sementara saluran pembuangan tidak terhubung dengan saluran yang menuju Batang Kuranji,” ujar Ketua RT 07 Kompleks Permata Surau Gadang, Husni Jamal, kemarin.

Menurut Husni, sebagian jalan yang telah beraspal mulai rusak dan jika tidak diatasi oleh pemko akan hancur. Begitu pula gang-gang kompleks yang belum lama ini selesai dibetonisasi pemko. Kondisi semakin memprihatinkan karena aliran air dari irigasi itu juga membawa sampah kiriman dalam jumlah besar. Sampah tersebut sering tersangkut di sepanjang drainase kompleks sehingga aliran air tersumbat.

baca juga: Korban Banjir di Muaro Painan dan Batangkapas Pessel Dievakuasi

“Warga di sini tidak ada yang membuang sampah sembarangan ke drainase. Sampah tersebut dibawa aliran air dari hulu dan membuat risiko banjir semakin tinggi. Warga kompleks bukan tidak berupaya mengatasi masalah tersebut. Hampir setiap minggu warga goro membersihkan, tapi karena volume air dan sampah terlalu besar, upaya tersebut tidak efektif,” jelas Husni.

Oleh karena itu, dia meminta pemko melakukan upaya percepatan perbaikan dalam pengelolaan saluran irigasi dan memperbesar drainase serta pengendalian sampah kiriman dari hulu. “Perlu penanganan di hulu dan hilir. Jika itu dilakukan, kami yakin persoalan banjir disertai sampah kiriman tersebut bisa diatasi. Apalagi kita tahu Padang merupakan kota yang meraih Adipura. Tentu ini jadi skala prioritas,” katanya didampingi Sekretaris RT Zulfahmi.

baca juga: Warga Batangkapas Pessel Nekat Terobos Banjir

Salah seorang warga Hendra Efison menambahkan, saat di kompleksnya tidak hujan, banjir juga melanda dan sampah kiriman berserakan sampai di depan rumah karena ketika itu hujan di hulu. "Anak-anak di sini juga rawan terserang penyakit karena saat itu mereka bermain di tengah banjir yang bercampur sampah," ujarnya.

Persoalan tersebut sudah disampaikan Ketua RT serta warga ke pihak kecamatan dan dinas terkait di Pemko Padang. "Sejauh ini, Pak Camat dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pemko Padang sudah merespons dan katanya telah menurunkan tim ke kompleks untuk perencanaan penanganannya. Sebelumnya juga ada datang mobil Dinas Lingkungan Hidup untuk mengangkut sampah tersebut. Secara resmi, kami juga sudah bikin surat yang ditujukan ke pak wali kota agar bisa ditindaklanjuti sehingga derita warga tidak berlarut-larut. Semoga bisa direalisasikan tahun 2020," jelas Husni.

Selain warga, petani yang memiliki lahan persawahan dekat kompleks tersebut juga mengeluhkan banyaknya sampah plastik hingga bangkai binatang yang memenuhi areal sawah saat hujan turun. Seperti diungkapkan Mak Uniang, salah seorang petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sarumpun Boneh yang berada di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo.

"Kini sudah memasuki musim penghujan. Setiap kali hujan, sampah kiriman terus menggunung di pintu aia (pintu irigasi-red). Jika hujan lebat turun lagi dan pintu air akan dibuka, akan membuat sampah-sampah itu ikut hanyut memenuhi sawah hingga saluran di pemukiman," ungkap Mak Uniang.

Gapoktan Sarumpun Boneh ini memiliki hamparan sawah seluas 73 hektare lebih dengan anggota 104 orang. Areal persawahan ini membentang mulai dari Kalumbuk (kecamatan Kuranji), Gurun Laweh dan Surau Gadang (kecamatan Nanggalo) hingga Bawah Asam Sungai Sapiah (kecamatan Kuranji).

"Plastik saja isi tali banda. Kadang, ada juga ditemukan bangkai binatang," ungkap Burman, pensiunan TNI putra setempat, yang kini jadi petani di Surau Gadang. Tumpukan sampah ini ditemukannya saat membersihkan tali banda menuju tiga petak sawahnya yang bersebelahan dengan Kompleks Permata Surau Gadang. Ia berharap persoalan ini segera diatasi pemko sehingga tidak lagi mengganggu aktivitas warga dan petani di Surau Gadang.

Penulis: Khadijah