Beraksi Semenjak 2016, 11 Tersangka Sindikat Pencuri Ternak Diamankan Polres Payakumbuh

Konferensi pers penangkapan 11 tersangka sindikat pencurian ternak.
Konferensi pers penangkapan 11 tersangka sindikat pencurian ternak. (KLIKPOSITIF/Taufik Hidayat)

PAYAKUMBUH , KLIKPOSITIF - Dalam rentang satu bulan terakhir, Tim Buser Satuan Reskrim Polres Payakumbuh mengamankan 11 tersangka sindikat spesialis pencuri ternak yang selama ini beraksi di sejumlah wilayah Sumbar semenjak 2016 silam.

Di antara 11 pelaku tersebut, tujuh diantarnya merupakan warga Simalanggang Kabupaten Limapuluh Kota, yakni berinisial IH (26), NHS (17), DAS (18), RF (30), MF (20), YP (21), JM (18), kemudian ada dua orang warga Bengkalis Riau, yaitu HC (39) dan NA (38), satu orang warga Solok KT (50), dan warga Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh , EP (24).

baca juga: Angka Positif COVID-19 di Payakumbuh Terus Naik, Dalam Dua Hari Bertambah 10 Kasus

Kapolres Payakumbuh , AKBP Dony Setiawan menjelaskan bahwa para pelaku sudah puluhan kali mencuri hewan ternak sejak tahun 2016 dan sudah meresahkan masyarakat.

"Kita mengamankan 11 orang tersangka dengan 9 orang berperan sebagai pencuri dan penyedia angkutan serta 2 orang lainnya berperan sebagai penadah," kata AKBP Dony pada saat konferensi pers, Rabu (12/2/2020).

baca juga: Ikut Panen Cabai, Wawako Payakumbuh Ajak Generasi Muda untuk Tidak Gengsi Jadi Petani

Berdasarkan data yang dimiliki Polres Payakumbuh , sindikat ini telah melakukan aksinya di 30 Tempat Kejadian Peristiwa (TKP), rinciannya di Kota Payakumbuh sebanyak 15 TKP dengan hasil 19 ekor sapi atau kerbau, Kabupaten Lima Puluh Kota sebanyak 9 TKP dengan hasil 10 ekor sapi atau kerbau, Kabupaten Tanah Datar sebanyak 2 TKP dengan 2 ekor, Kota Bukittinggi sebanyak 4 TKP dengan pencurian 4 ekor.

Dalam melancarkan aksinya, para pelaku beraksi secara bersama-sama, ada yang bertugas menyediakan kendaraan dan ada juga yang mencuri hewan ternak hidup-hidup ataupun disembelih langsung di TKP.

baca juga: Ribuan Keluarga di Payakumbuh Terima Bansos Beras PKH

"Sapi atau kerbau hasil curian itu dijual ke Solok, Tanah Datar, dan ke Pekanbaru. Untuk ternak yang hidup dijual dengan kisaran harga Rp10-13 juta perekor, untuk yang sudah dipotong di lokasi dijual seharga Rp8 juta perekor," terang AKBP Dony.

Sasaran sapi yang diincar oleh sindikat pencurian itu adalah sapi yang telah diikat hidungnya dengan alasan sapi tersebut lebih gampang untuk dicuri dan tidak akan menimbulkan bunyi yang membuat heboh.

baca juga: Ratusan Warga Binaan Lapas Kelas II B Payakumbuh Belum Masuk DPS Pilkada

Sementara itu, Kasat Reskrim AKP lham Indarmawan menuturkan bahwa para pelaku biasanya beraksi pada tengah malam sampai subuh.

"Penangkapan pertama kali kami lakukan di Kota Solok pada tanggal 24 Januari 2020, setelah dilakukan pengembangan kemudian kami berhasil mengamankan 2 tersangka di Duri pada tanggal 2 Februari, lalu setelah dikembangkan lagi dengan mambagi tim, jajaran mengamankan lagi 1 orang tersangka di Bandung dangan 3 orang tersangka di Tasikmalaya pada tanggal 5 Februari," jelasnya.

Pengungkapan kasus sindikat pencurian hewan ternak itu merupakan hasil dari penyelidikan di lapangan serta informasi dari masyarakat dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan mengumpulkan bukti yang cukup untuk melakukan upaya paksa penangkapan.

Barang bukti yang disita dari kasus ini yaitu pisau daging digunakan untuk melakukan pemotongan sapi di lokasi pencurian, kapak untuk memecah tulang, cangkul yang digunakan apabila kapak tidak bisa, handphone sebagai alat komunikasi antara penadah dan tersangka, tali arung, kunci mobil yang digunakan para pelaku dalam melakukan aksi, serta uang senilai 8 juta yang merupakan sisa dari hasil penjualan sapi di TKP Akabiluru.

"Atas kasus pencurian ini para pelaku pencurian dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman selama 7 tahun penjara, sedangkan untuk penadahnya dijerat Pasal 480 KUHP ancaman hukuman 4 tahun penjara," pungkasnya. (*)

Editor: Taufik Hidayat