Meski Ditengah Pendemi COVID-19, Tradisi Malamang Sambut Lebaran di Pessel Tetap Bertahan

Saat lamang dipanggang diatas tungku
Saat lamang dipanggang diatas tungku (Kiki Julnasri/Klikpositif.com)

PESSEL, KLIKPOSITIF - Malamang (memasak lamang) akan selalu menjadi tradisi yang tak pernah bisa dilepaskan dalam cerita orang Minangkabau. Meski, di tengah pandemi, keberadaannya tetap lestari walaupun tak merata dilakukan masyarakat.

Seperti, di Kampung Ganting Kubang, Nagari Kambang Utara, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Sebagian, masyarakatnya masih menjadikan lamang sebagai penganan khas, terutama saat Idul Fitri .

baca juga: 2020 Kecelakaan Lalulintas di Padang Pariaman Masih Tinggi, Polisi Catat 349 orang Jadi Korban

Pada Idul Fitri 1441 Hijriah ini, masyarakat malamang pada Sabtu 23 Mei 2020. Malamang dilakukan sehari sebelum Idul Fitri , atau sehari sebelum 1 Syawal (yang jatuh pada Minggu 24 Mei).

"Alhamdulillah, lebaran tahun ini kami bisa melamang. Dan besok sudah masuk Idul Fitri ," ujar Jelly (31) warga setempat yang ditemui KLIKPOSITIF , Sabtu 23 Mei 2020.

baca juga: 142 Ribu Lebih Napi akan Terima Remisi Kemerdekaan Pada 17 Agustus

Di kampung ini, pagi pukul 05.30 WIB, sebagian rumah sudah terdengar sibuk. Akitivas terpantau sejak usai salat subuh dan sahur, yakni mempersiapkan segala bahan untuk malamang.

Menurut keterangan, malamang sudah menjadi tradisi setiap lebaran. Begitu pada Idul Fitri 1441 Hijriah ini. Salah satunya, untuk disantap bersama keluarga.

baca juga: Diberi Bintang Tanda Jasa, Fahri Hamzah: Saya Akan Terus Mengkritik

Proses malamang ini, hanya hingga jelang siang. Ketika proses memasaknya selesai. Setiap, lamang yang sudah matang diangkat dari tungku. Tungku untuk melamang tidak buat secara permanen. Hanya saja dibuat sementara di sekitar perkarangan rumah yang memiliki luas yang cukup untuk membuat tungku kayu bakar.

Dengan setelah tungku tersedia, potongan bambu yang sudah berisi ketang beras, santan kelapa dan garam itu, dijajarkan di samping bara api. Hingga proses selesai membuat lamang menjadi matang.

baca juga: Syarat Pilkada, Legislator Usul Anggota Parlemen Tidak Perlu Mundur

"Kalau kami di sini paling banyak dari ketas beras putih dan putih atau sipulut. Jika sudah matang, siapa saja yang datang ke rumah boleh mencoba," terangnya.

Meski lamang sudah menjadi tradisi setiap lebaran datang. Namun, pada lebaran ini, sebagian masyarakat merasakan suasana berbeda.

Di mana, pada Idul Fitri tahun ini mereka tidak bisa merasakan lebaran bersama keluarga dari rantau. Sebab, adanya larangan pemerintah akibat pandemi.

"Biasanya dimasak untuk menjamu tamu yang datang. Tapi, kini mungkin untuk kita saja," terangnya.

Kendati demikian, tradisi malamang akan selalu memiliki nilai tersendiri dalam cerita Minangkabau. Salah satunya, tokoh Adat Pesisir Selatan, Novrial Bahrun Dt. Suri Maharajo, malamang memiliki nilai kebersamaan, yakni terlihat dari setiap prosesnya.

Di antaranya, mulai dari mencari bambu dan kayu api ditugaskan kepada laki-laki, sementara perempuan menyiapkan santan dan kentan. "Dalam proses inilah kebersamaan dan gotong royong terbangun," ujar Novrial.

Menurutnya, malamang merupakan tradisi yang dilakukan tidak hanya pada lebaran Idul Fitri . Tradisi ini juga biasa dilakukan pada Bulan Ramadan dan juga Maulud atau memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dan hari raya kedua yakni Idul Adha. Tidak terkecuali pada masa pendemi ini.

"Dan ini sudah menjadi tradisi , salah satunya untuk dijadikan sebagai hidangan saat berdoa dan berkumpul bersama keluarga, teman dan juga majelis ketika di masjid," jelasnya.

Tradisi malamang disebut dalam Tambo (kisah yang meriwayatkan asal-usul dan kejadian masa lalu di Minangkabau). Menurut Tambo, tradisi ini tak lepas dari peran Syekh Burhanuddin, ulama asal Pariaman. Saat itu Syekh Burhanuddin melakukan perjalanan ke daerah pesisir Minangkabau untuk menyiarkan agama Islam, terutama di daerah Ulakan, Pariaman.

Syekh Burhanuddin rajin berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk bersilaturrahmi dan menyiarkan agama Islam. Oleh warga, beliau sering disuguhi makanan. Namun, sepertinya Syekh Burhanuddin agak meragukan kehalalan makanan yang dihidangkan. Dia pun menyarankan kepada setiap masyarakat yang dikunjunginya agar mencari bambu, lalu mengalasnya dengan daun pisang muda. Beras ketan putih dan santan lalu dimasukan ke dalamnya, kemudian dipanggang di atas tungku kayu bakar.

Penulis: Kiki Julnasri | Editor: Eko Fajri