Sukmawati Trending di Sosial Media, Netizen: PKI Berideologi Pancasila?

Putri Presiden Pertama Republik Indonesia Sukmawati Soekarnoputri.
Putri Presiden Pertama Republik Indonesia Sukmawati Soekarnoputri. (Net)

KLIKPOSITIF - Nama Sukmawati yang tak lain merupakan putri presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno menempati trending di sosial media.

Namanya menjadi trending setelah dikaitkan dengan pernyataannya mengenai ideologi PKI yang disebut tak menolak Pancasila saat berdiskusi di acara Indonesia Lawyers Club di TV One.

baca juga: Per November, Garuda Berhentikan 700 Karyawan Kontrak

Dari pantauan komentar di Twitter, tak sedikit di antara netizen yang masih bingung dan mempertanyakan soal pernyataan tersebut.

"Partai Komunis berideologi Pancasila ? Berarti mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa. Menghormati tokoh agama, bukan membunuhi, mempersekusi, Berperikemanusiaan bukan biadab membunuh tanpa mengadili. Ada jejaknya," kata Diah.

baca juga: Kemenperin Dorong IKM Manfaatkan Teknologi Digital

"Saya bari tahu malam ini kalau ideologi PKI itu adalah Pancasila menurut Bu Sukmawati, selama ini saya belajar sejarah azasnya yaa Komunisme... Apa ada perubahan ideologi PKI?" tanya Nirwan.

"Gimana sih bu Sukmawati?" tanya Rosyid.

baca juga: Video Polisi Dipukul Intel Masuk 9GAG, Ini Respon Netizen

Sebelumnya, Dalam forum diskusi Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, Selasa (29/9/2020), Sukmawati mengatakan, sejumlah senior dari Partai Nasional Indonesia atau PNI sempat memberitahu dia mengenai gerakan terlarang tersebut.

Bahkan, pada akhirnya dia memahami, sebenarnya tak ada yang salah dari ideologi yang dianut anggota PKI. Sebab, seperti yang telah disinggung di awal, masih ada Pancasila di tubuh mereka.

baca juga: Tiga Petinggi Sunda Empire Divonis Dua Tahun

"Ini setahu saya, ideologi (yang dianut) PKI, menurut senior-senior saya dan tokoh-tokoh PNI, waktu itu memberikan info ataupun ilmu kepada saya, mereka mengatakan bahwa PKI itu tidak menolak Pancasila . Jadi, kalau dibilang PKI itu ideologinya apa, sih? Sebetulnya ideologinya ya Pancasila ," ujar Sukmawati.

"Jadi, kenapa harus menjadi masalah? PKI itu ideologinya Pancasila ," sambungnya, Rabu (30/9/2020).

Maka itu, kata Sukmawati, PKI sejatinya berbeda dengan gerakan komunisme di sejumlah negara, seperti Uni Soviet dan juga China.

Sebab, di dua negara tersebut, paham yang tertanam di kepala mereka secara mutlak adalah komunisme. Sedangkan, PKI masih merujuk pada nilai-nilai Pancasila .

"Nah, tapi kalau bicara komunisme yang ada di Uni Soviet atau RRC, memang benar itu (ideologinya) komunisme dengan partai tunggal. Jadi, satu komando. Kalau harus A, ya A. Harus B, ya B. Begitu," terangnya.

Kemungkinan munculnya penganut komunisme bawah tanah

Sukmawati beranggapan, secara hukum, komunisme sudah dilarang di Indonesia.

Namun, boleh jadi, ada sejumlah masyarakat yang secara sembunyi-sembunyi masih membawa pemikiran tersebut.

Sayangnya, masyarakat tak bisa mendeteksi hal itu, lantaran bentuk atau wujud ideologi sangat abstrak.

"Jadi kalau ditanya ideologi PKI, kata para senior itu, ya Pancasila . So, kalau Pancasila ya berarti masih hidup. Kalau komunis kan secara institusi partainya saja sudah bubar, jadi sudah enggak ada."

"Nah, secara ideologi, saya enggak tahu. (Terutama) kader-kader komunis underground (bawah tanah). Itu, apakah juga setuju dengan Pancasila seperti para seniornya yang telah tiada? Atau mereka bercita-cita ingin seperti komunisme di Uni Soviet dan RRC? Tapi intinya kan negara kita bukan kaisar atau feodalisme, tapi republik," terangnya.

Penganut ideologi bawah tanah, kata Sukmawati, bukan hanya berasal dari pendukung komunisme saja, melainkan juga pendukung lainnya.

Salah satunya, kelompok Islam yang hendak mendirikan negara berdasarkan hukum-hukum keislaman. Kendati pemerintah melarang, mungkin ada sejumlah pihak yang menyimpan keinginan tersebut.

"Jadi kalau ideologi itu underground, bisa saja masih hidup, seperti juga yang bermimpi dan bercita-cita mendirikan negara Islam, itu underground kan masih ada. Misalnya, HTI dibubarkan, ah gampang ganti pakaian bisa. Tapi kan tetap, ideologi yang mereka inginkan adalah negara Islam," kata dia.

Sumber: Suara.com/hops.co.id

Editor: Eko Fajri