Dua Orang Teman Sekamar Meninggal, Perjuangan Mevrizal Asal Solok Bebas dari Belenggu Covid-19

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

SOLOK , KLIKPOSITIF - Jumat 25 September 2020, menjadi hari yang sulit dilupakan Mevrizal, mungkin akan terkenang seumur hidup. Hari itu, advokat asal kabupaten Solok ini divonis positif Corona Virus Desease 2019 (Covid-19).

Badan panas, nafas sesak dan tenaga hilang. Pikiran buruk berkecamuk dalam benaknya. Terutama memikirkan orang-orang yang dicintainya.

baca juga: Hari Ini, Satu Pasien COVID-19 di Pessel Meninggal Dunia

"Campur aduk rasanya, khawatir anak dan istri terkena virus ini juga, pokoknya, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat itu," ucap Mevrizal saat mengawali obrolan, Jumat (30/10/2020).

Memang, sebelum dinyatakan positif, kata Mevrizal, dia juga sudah mengalami demam tinggi, keletihan hingga mengganggu pernafasan. Akhirnya, dia memutuskan untuk berobat ke Puskesmas dan langsung di swab.

baca juga: Habib Rizieq Diklaim Tidak Positif COVID-19, Wasekum FPI : Anak Sama Menantunya Juga Negatif

Dari analisa petugas medis saat itu, Mevrizal disarankan untuk dirawat di Rumah Sakit Unand Padang. Siangnya langsung berangkat ke rumah sakit, semakin parah, bahkan harus pasang oksigen.

"Rasanya sangat susah bernafas, melihat kondisi saya waktu itu, akhirnya harus dibantu dengan tabung oksigen, baru sedikit ringan," ulasnya mengenang masa sulit itu.

baca juga: Tanah Datar Sudah Kirim 5.939 Sampel, 557 Orang Terkonfirmasi Positif COVID-19

Usai penanganan gawat darurat, Mevrizal yang hari itu juga diketahui positif langsung dirawat di ruang isolasi khusus bersama pasien positif lainnya. Hatinya kalut dan bimbang. Teringat istri dan keluarga.

"Saya tes swab sudah hari keenam pasca sakit demam tinggi, dan dinyatakan positif, risau kalau istri dan keluarga juga kena," bebernya.

baca juga: Kembali Zona Orange, Kota Solok Urungkan Sekolah Tatap Muka

Keesokan harinya, tim Surverylans langsung melakukan tes swab terhadap istri dan anaknya. Dari hasil swab yang dilakukan terhadap keluarganya, istri dan adiknya serta seorang teman dinyatakan positif. Tapi berbeda dengan Mevrizal, istri dan keluarga serta temannya diisolasi di rumah.

Selama menjalani perawatan di Rumah sakit Unand, Mevrizal mengalami sejumlah pengalaman yang cukup mengagetkan. Tekanan batin juga cukup berat, apalagi kondisi fisiknya juga cukup lemah saat itu.

"Yang berat itu, kita tidak boleh dijenguk oleh keluarga apalagi ditunggui, jadi sedikit gamang, sehari-hari hanya bertemu dengan dokter dan perawat," katanya.

Hari ke enam menjalani perawatan, Mevrizal mulai merasa sedikit lebih baik. Kemudian, oleh petugas, dirinya dipindahkan ke kamar 406. Kamar dimana pasien positif lainnya.

Pengalaman yang tak bisa dilupakan Mevrizal, kala dirawat di ruang isolasi, ada dua orang pasien positif meregang nyawa di depan matanya.

"Tambah stres melihat pasien lain meninggal, terjatuh dari tempat tidurnya. Saya coba tenangkan diri dan menyerahkan segalanya pada Allah SWT," ceritanya.

Badai itu akhirnya berlalu, setelah menjalani perawatan selama lebih kurang 14 hari, Mevrizal akhirnya dinyatakan negatif dan memutuskan untuk melanjutkan perawatan atau isolasi di rumah.

"Memang berat saat itu, saya merasakan sendiri bagaimana jadi korban Covid-19, yang masih ragu soal Corona , ini memang benar adanya dan bukan hanya sekedar spekulasi," tegasnya.

Memang belum ada obat untuk membunuh Corona , namun baru bisa diupayakan dengan peningkatan imunitas tubuh. Makanya, pasien dianjurkan untuk tidak stres, mengkonsumsi makanan bergizi dan menerapkan ajaran dan gaya hidup Islam.

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya," jelasnya mengutip Hadis Riwayat Imam Bukhari.

Pasien positif harus lepas dari beban pikiran, kalau tidak akan memicu penyakit lainnya karena daya tahan tubuh menurun. Intinya, tetap mengamalkan ajaran dan gaya hidup Islam. Musibah dan penyakit tidak memandang siapapun.

Penulis: Syafriadi | Editor: Eko Fajri