Kisah Ria Oktorina, Penyintas Covid-19 Asal Solok Sumbar

Ria Oktorina
Ria Oktorina (Dokumen Pribadi)

SOLOK , KLIKPOSITIF - Rasa bahagia memancar di wajah Ria Oktorina, keluarganya yang sempat terpisah gegara wabah Corona Virus Desease 2019 ( Covid -19) akhirnya kembali berkumpul usai dirinya dan suami dinyatakan sembuh.

Maklum selama menjalani isolasi mandiri karena terpapar Covid -19, anaknya bernama Bariq harus diungsikan ke Solok , sementara suaminya harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Unand Padang.

baca juga: Kasus COVID-19 di Agam Kembali Bertambah, 2 Orang Meninggal

"Alhamdulillah, suami sembuh tanggal 6 Oktober 2020, berselang seminggu kemudian saya dan adik ipar, bertiga kami kena satu keluarga," cerita Ria Oktorina mengenang masa suram wabah menjamah keluarganya, Senin (30/11/2020).

Namun yang paling disyukuri wanita lulusan S2 Belanda itu, walaupun waktu itu dirinya dan suami sempat berinteraksi dengan anaknya, Bariq sama sekali tidak terkena Covid -19.

baca juga: Vaksinasi Corona di Pariaman Direncanakan Baru Mulai pada Februari 2021

"Beruntung sekali, anak saya Bariq tidak terpapar Covid -19. Hanya saya, suami dan adik ipar yang dinyatakan positif Corona," ucap Ria.

Dikisahkannya, virus corona pertama kali menyerang suaminya, Mevrizal. Waktu itu, suaminya mengalami demam berat hingga sesak nafas. Awalnya dikira sakit biasa.

baca juga: Bukan Asal Pilih Vaksin, Ternyata Ini Alasan Pemerintah Pilih Sinovac

Seperti dikisahkan KLIKPOSITIF sebelumnya, lantaran semakin berat, akhirnya Mevrizal diperiksa ke Puskesmas terdekat dan langsung dirujuk ke rumah sakit. Petugas media kemudian melakukan tes swab, dan hasilnya ternyata positif.

"Persisnya sekitar 25 September, suami masuk rumah sakit karena gejala sakit dan demam sampai sesak nafas, selang 3 hari kemudian dinyatakan positif Covid -19, kami yang tinggal serumah langsung melakukan tes swab," terangnya.

baca juga: Joe Biden Keluarkan Perintah Wajib Pakai Masker

Alhasil, Ria dan adik iparnya positif, sementara buah hatinya, Bariq dinyatakan negatif. Usai keluar hasil tersebut, buah hatinya langsung diungsikan ke Solok , untuk mencegah penularan, sementara dirinya menjalani isolasi mandiri.

Diakuinya, memang sebelum dinyatakan positif, dirinya sempat merasakan gejala demam. Kepala terasa berat dan nafsu makan berkurang.

Beruntung, dirinya bersama adik ipar tidak harus menjalani isolasi khusus atau perawatan, cukup dengan menjalani isolasi mandiri di rumah, lantaran tidak ada gejala berat yang perlu penanganan secara medis.

"Waktu itu, terhitung 1 Oktober isolasi mandiri di rumah, saya diberikan vitamin dan obat-obatan termasuk obat batuk," kenang wanita yang pernah ikut pertukaran pelajar ke Amerika Serikat itu.

Aktif Berbagi di Medsos

Selama menjalani isolasi mandiri, Ria menjalani hari-hari seperti biasa. Dirinya berusaha berpikir dan melakukan hal-hal positif. Wanita yang tercatat sebagai pegawai di Bappeda itu juga menulis catatan harian Covid -19 di media sosial.

"Agar menjadi kenangan ketika saya dan keluarga berjuang melawan virus yang menyerang seluruh dunia itu," kenangnya.

Di samping itu, dirinya berharap, tulisan yang di share dapat diambil hal positif dan semangat bagi pembaca dan teman di media sosial. Bahkan, Ria secara terang-terangan menyampaikan bahwa suaminya juga terpapar Covid -19.

Diakuinya, memang pada awalnya dirinya mendapat respon atau komentar negatif. Akan tetapi hal itu berlalu seiring dengan semakin banyaknya yang memberikan dukungan dan semangat.

Dikatakannya, sakah satu kunci dalam menghadapi wabah Covid -19 yakni tetap menjaga semangat. Ditambah dengan mengkonsumsi makanan bergizi, buah dan vitamin.

"Saya tetap berusaha tetap semangat dan sehat, ditambah dengan berolahraga rutin," paparnya.

Itu juga menjadi salah satu hikmah baginya, sebab, hal itu memang cukup jarang dilakukan sebelum kena Covid -19 lantaran kesibukan. Namun kini menjadi kebiasaan karena membuat badan jadi bugar.

Selain itu, katanya, dukungan keluarga dan kerabat sangat mendukung dalam mempercepat penyembuhan. Semangat dan dorongan akan melahirkan aura Positif dan memperkuat imunitas tubuh.

Ditegaskannya, terpapar virus Covid -19 bukanlah aib yang harus disembunyikan sehingga bisa mengancam keselamatan orang lain. Beban psikologis menjadi tantangan terberat bagi pasien Covid -19.

Dikatakannya, ada juga yang tidak seberuntung dirinya. Minimnya dukungan keluarga dan lingkungan, bahkan dijauhi karena rasa takut orang disekitarnya. Padahal, tidak ada orang yang ingin terkena Covid -19.

Dirinya menyarankan, jika dinyatakan positif, tak perlu malu mengumumkan ke publik. Hal itu sebagai bentuk tanggungjawab terhadap publik dalam rangka membantu memutus mata rantai Covid -19.

Dengan diumumkan, maka secara otomatis orang-orang yang sempat kontak erat dengan pasien akan segera memeriksakan diri, sehingga penanganan bisa cepat dan menyeluruh.

Satu hal ditegaskan Ria, Covid -19 bukanlah hoax seperti disangkakan banyak orang, bukan teori konspirasi juga. Mari disiplin terapkan protokol pencegahan Covid -19.

Penulis: Syafriadi | Editor: Haswandi