Kasus Kematian Bayi di Pariaman Meningkat, Dinkes Sedang Cari Penyebabnya

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

PARIAMAN , KLIKPOSITIF - Angka kematian bayi di Kota Pariaman tercatat meningkat tahun ini ketimbang tahun sebelumnya. Pihak Dinas Kesehatan Kota Pariaman , saat ini masih melakukan pemeriksaan atau penyelidikan terkait penyebab kematian tersebut, Jumat 23 Juli 2021.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman , Nazifah mengatakan dari awal tahun 2021 hingga sekarang telah terjadi 17 kasus kematian bayi di kota tersebut.

baca juga: Masih Rendah, Capaian Vaksinasi Lansia Kota Padang Baru Belasan Persen

"Tahun sebelumnya (2020) kasus kematian bayi tercatat 14 orang atau kasus sedangkan dari awal 2021 hingga sekarang tercatat 17 kasus," ungkap Nazifah, Jumat 23 Juli 2021.

Untuk penyebab kematian sendiri, kata Nazifah lagi, pihaknya masih melakukan penyelidikan, apakah kematian bayi dikarenakan virus corona atau penyebab lainnya.

baca juga: Biar Tidak Berbekas, Begini Perawatan Luka Bakas Cacar Air

"Mengetahui ada peningkatan kasus kematian bayi itu kami telah melaksanakan kegiatan untuk menindaklanjuti. Kami segera buat klinik penanganan anak di setiap Puskesmas di Pariaman serta melaksanakan pelatihan untuk tenaga kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit," jelas Nazifah.

Sebagi langkah dasar, kata Nazifah lagi, pihaknya telah menekankan kepada tenaga kesehatan seperti bidan atau pihak puskesmas untuk melakukan pendampingan terhadap ibu hamil atau yang baru melahirkan.

baca juga: Pemko Padang Akan Tutup Lokasi Karantina Rumah Nelayan, Ini Penyebabnya

"Tugas mereka memberikan edukasi atau bimbingan terkait merawat janin atau bayi sementara itu kami terus berupaya mencari tau penyebab kasus kematian tersebut," ulas kadis kesehatan itu.

Pun demikian usaha pihak dinas tersebut, saat ini penyebaran corona menjadi persoalan mendasar sehingga tenaga kesehatan maupun warga enggan melakukan pertemuan.

baca juga: Sakit Kepala Dipicu Kolesterol Tinggi, Ini yang Bisa Anda Lakukan

"Takut jika corona menyebar. Banyak pihak baik dari tenaga kesehatan atau warga enggan bertemu karena menghindari penyebaran corona," ungkap Nazifah.

Penulis: Rehasa | Editor: Ramadhani